Semangat Membangun Negeri Menuju Ekonomi Rendah Karbon

Geo Dipa Energi > Berita > Semangat Membangun Negeri Menuju Ekonomi Rendah Karbon

WhatsApp Image 2020-07-10 at 9.58.15 AM

200706_ Rilis Ultah GeoDipa (Final).docx

Memperingati Hari Ulang Tahun (Dirgahayu) yang ke-18 pada 5 Juli 2020 lalu, PT Geo Dipa Energi (Persero) mengangkat tema “Semangat Membangun Negeri”. Tema ini diambil guna meniupkan semangat untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat diterpa Covid-19, serta mendorong transformasi energi Indonesia ke arah yang berkelanjutan dan kecil terhadap dampak gas rumah kaca (CO2).

Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero), Riki Firmandha Ibrahim, mengungkapkan optimismenya “GeoDipa percaya, energi terbarukan seperti Panas Bumi akan menjadi pondasi yang kuat bagi Indonesia untuk pemulihan ekonomi pasca pandemi”. Menurut Riki, disetujuinya kucuran dana dari Asian Development Bank sebesar 300 Juta dolar untuk pembangunan proyek Dieng Unit 2, Jawa Tengah dan Patuha Unit 2, Jawa Barat ditengah Pandemi Covid-19, merupakan gambaran nyata kepercayaan kepada Indonesia untuk mendorong pembangunan energi terbarukan dan industri saat ini.

Proyek Energi Terbarukan Panas Bumi merupakan sebuah investasi berkelanjutan yang sangat strategis. Sifatnya yang sustainable (berkelanjutan) menjadi kunci mengapa energi ini dapat menopang pemulihan ekonomi Indonesia. Energi panas bumi mampu membawa pemulihan ekonomi negeri bahkan meningkatkan ekonomi lebih baik karena berpotensi untuk menghadirkan pabrikan-pabrikan turbin berteknologi tinggi serta menciptakan banyak SDM di bidang lingkungan, teknik sipil/mesin/listrik dan Geothermal sehingga dikatakan menjadi center of excellence bagi Indonesia.

Pandemi Covid-19 dapat menjadi momentum baik bagi Indonesia untuk melakukan transformasi energi kepada energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan seperti Panas Bumi. Menurut data terbaru dari Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA), Sejak tahun 2012 Energi terbarukan tumbuh secara eksponensial. Pada penelitian yang berbeda, Shell dalam laporan Sky Scenario-nya (2018), menggambarkan permintaan energi berbasis fosil akan mencapai puncaknya di tahun 2025-2030. Pada saat itu, Indonesia masuk menjadi 4 negara besar yang ditopang dengan anugerah energi terbarukan panas bumi mendominasi permintaan energi listrik dalam negeri, sedangkan energi fosil dialihkan manfaatnya yang lebih penting lagi untuk kebutuhan sandang, obat-obatan, bahan kimia dan lainnya.

Pada tahun 2023/4 Proyek Dieng 2 dan Patuha 2 direncanakan akan mencapai Commercial Operation Date (COD), dengan misi penugasan lainnya menjalankan Government Drilling untuk mengurangi risiko investasi eksplorasi panas bumi. Kebijakan ini akan meningkatkan kepercayaan swasta/investor di sektor Panas Bumi Indonesia. Menurut Riki, kedua penugasan tersebut menunjukkan bagaimana pemerintah saat ini memiliki visi agar Indonesia tidak kehilangan kesempatan dalam perubahan arah energi dunia. “Ini peluang kita untuk bergerak maju dengan pondasi energi terbarukan menuju ekonomi rendah karbon. Jangan sampai kehilangan momentum dan tertinggal dengan negara lain” tegas Riki.

 

 

Riki menyampaikan pula, bahwa perubahan status Indonesia sebagai Upper Middle Income Country baru-baru itu tak hanya sebuah pencapaian, tetapi juga menambah tanggung jawab kita untuk pembangunan pembangkit listrik di luar Jawa-Bali. GeoDipa dibawah komando Kementerian Keuangan sebagai Special Mission Vehicle (SMV), harus nyata dalam mengangkat kepercayaan investor dan mitra swasta, atas pentingnya ketahanan energi nasional menuju ekonomi rendah karbon melalui energi terbarukan panas bumi.

Semangat Membangun Negeri